Tahun depan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan akan mengubah proses penerimaan peserta didik baru (PPDB). Itu artinya, calon peserta didik dari jenjang sekolah dasar dan menengah tidak harus lagi mendaftar secara online ke sekolah yang diinginkan.

Muhadjir Effendy, Menteri Pendidkan dan Kebudayaan, seperti yang dikutip dari pikiran rakyat.com, menjelaskan, sistem PPDB diganti dengan optimalisasi zonasi. Dengan demikian, siswa sudah mengetahui akan melanjutkan ke sekolah mana sejak awal tahun.

Menurut Mendikbud, proses rekruitmen berbasis zonasi ini sangat mengandalkan kinerja Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS).

Oleh karena itu, MKKS yang akan menentukan kapasitas kelas dan mengindentifikasi siswa yang akan masuk di jenjang berikutnya pada setiap zona.

Dengan begitu, MKKS juga wajib melakukan pembinaan terhadap siswa sehingga siswa bisa menentukan akan meneruskan sekolah ke SMP dan SMA mana atau SMK bidang apa.

Terkait hal ini, Muhadjir optimistis, system zonasi yang mulai diterapkan secara nasional pada penerimaan siswa baru 2018 mampu menggantikan PPDB yang biasanya dimulai Juni setiap tahunnya.

Untuk mensukseskan program ini, Kemendikbud juga sudah mensosialisasikannya kepada pemerintah daerah. Pemerintah daerah dapat langsung mulai mengidentifikasi calon siswa yang akan masuk ke jenjang selanjutnya.

Sebagai informasi, sistem zonasi merupakan puncak dari kebijakan pembenahan sistem persekolahan nasional.

Untuk mengoptimalisasikan sistem perekrutan baru tersebut Kemendikbud sudah menyiapkan sekitar 1.900 zona.

Di sisi lain, Mendikbud juga meminta agar pemerintah daerah dapat bersama-sama menetapkan zona-zona persekolahan di wilayah masing-masing.

Foto :ppdbkotabandung.wordpress.com