Akselerasi merupakan program percepatan masa studi siswa dari waktu yang telah ditetapkan. Sehingga, waktu tiga tahun untuk menempuh pendidikan SMP maupun SMA bisa dihemat menjadi dua tahun saja.

Namun, program tersebut rencananya dihapus oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Mohammad Nuh menyatakan, rencana tersebut muncul dari ide dasar untuk menang di awal atau di akhir.

"Interaksi sosial pada masa SMA harus dipentingkan. Oleh karena itu, kita tidak menganut paham bagi siswa SMP dan SMA lulus dalam waktu satu tahun. Yang kita mau kejiwaan anak harus dijaga," jelasnya.

Setiap jenjang pendidikan memiliki batas usia tersendiri. M Nuh menyebutkan, kebijakan tersebut bertujuan agar setiap anak masuk ke jenjang pendidikan yang memang sesuai usia fisik dengan psikologis.

"Dari situ, tidak boleh masuk SD usia tiga hingga empat tahun, sesuai usia fisik yang dia miliki. Maka, harus diubah karena melihat maturitas sang anak. Jangan sampai usia masih anak-anak tapi terjebak di usia dewasa," imbuh mantan Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) itu.

Guna memfasilitasi siswa SMA yang pintar dan mampu mengambil mata pelajaran lebih, para siswa bisa mencicil jumlah SKS yang harus diselesaikan di perguruan tinggi kelak. Dengan demikian, interaksi sosial dan tingkat kedewasaan anak tersebut bisa terjaga.

Dia menambahkan, penetapan penghapusan program akselerasi menjadi wewenang Dirjen Dikti. "Kapan berlakunya bisa ditanyakan kepada Dirjen Dikti," ungkapnya.